September 2, 2012

Saya Orang Indonesia! ~ Part 1


Hello! (diucapkan dengan muka yang sumringahnya luar biasa!) Finally ngepost lagi setelah berbulan-bulan off! Sebenarnya banyak yang mau ditulis, tapi pikiran masih occupied sama si mini thesis. (GLEK! Don't say it!) Hahaha.. Makasih ya buat temen-temen yang pada nanyain "kapan nulis lagi, Be?" atau "kapan nulis lagi, Feb?" (halah, sama aja kali! hehehe)., thank you for asking, for being unpatiently waiting for my writings, for being my loyal readers (GR banget ya! Hahaha...) Hope my simple thought here can inspire you somehow :)

Nah, post kali ini terinspirasi dari tulisan Ibu Soe Tjen Marching (@soetjenmarching) berjudul "Ahok dan Cina" yang dimuat di Koran Tempo, 11 Agustus lalu. Tulisan beliau masih ada kaitannya dengan pencalonan Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama sebagai wagub Jakarta mendampingi Mas Jokowi yang maju sebagai gubernur. Langsung saja disimak buah pikiran Ibu Soe Tjen Marching berikut ini (brown font):

---

Apa beda Marissa Haque dan Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama? Banyak. Tentunya tidak perlu saya sebutkan lagi. Tapi, apa persamaannya? Mereka sama-sama mencalonkan diri menjadi wakil gubernur (Banten dan Jakarta). Marissa dengan leluasa menyatakan tentang kakeknya, Siraj Ul Haque, yang berasal dari Uttar Pradesh, India Utara. Bahkan dalam satu satu blognya, dijelaskan bahwa kakeknya adalah orang India asli, sedangkan ayah mereka adalah orang Pakistan. Namun, ini tidak menjadi masalah. Marissa Haque tetap orang Indonesia. Bandingkan Marissa dengan Ahok. Berkali-kali Ahok menekankan bahwa dia adalah orang Indonesia. Seakan dia harus berjuang hanya untuk mendapat pengakuan untuk hal yang satu ini. PR yang tidak perlu dikerjakan oleh Marissa saat ia mencalonkan diri sebagai wagub.

Beberapa kecaman tentang Ahok bertebaran, menyebut dia Cina dan mempertanyakan rasa nasionalismenya terhadap Indonesia. Apa sebenarnya arti kata "Cina" di Indonesia?  Kebanyakan menyebutkan, orang Cina pantas disebut demikian karena nenek moyang mereka berasal dari Cina, bukan dari Indonesia. Inilah yang tidak terjadi pada Marissa Haque, yang nenek moyangnya juga tidak berasal dari Indonesia. Tidak ada yang meragukan nasionalismenya, dengan menyebut dia sebagai orang Pakistan atau India. Padahal, jelas sekali dia menyatakan bahwa kakek dan ayahnya bukan orang Indonesia. Inilah diskriminasi yang masih mengakar, dan seringkali tidak disadari di Indonesia. Padahal menurut penjelasan UU No.12 tahun 2006, konsep Indonesia asli adalah orang yang menjadi warga negara sejak lahir dan tidak pernah menerima kewarganegaraan lain atas kehendaknya sendiri. Lalu, ketentuan Pasal 4 menegaskan bahwa anak yang dilahirkan di wilayah Negara Republik Indonesia dianggap Warga Negara Indonesia sekalipun status kewarganegaraan orang tuanya tidak jelas. Jadi, mengidentifikasi Ahok sebagai "Cina " sudah bisa dianggap melanggar hukum. Mengapa sebutan Cina ini begitu ditekankan? Padahal, ada banyak sekali migran-migran dari India dan Timur Tengah di Indonesia? Tapi, hanya Cina yang seolah berbeda.

Dan apa arti Cina itu sendiri? Cina yang mana? Sedangkan, garis perbatasan negara selalu berubah-ubah.  Yang dinamakan Cina sekarang bukanlah lagi Cina yang dulu. Ada Taiwan dan RRT, yang keduanya disebut Cina, namun dengan ideologi yang cukup berbeda. Kalau kita menganggap bahwa suku Han adalah etnis Cina yang asli, etnis yang dianggap asli pun sudah banyak tercampur oleh darah Mongolia karena penjajahan bertubi-tubi. Sedangkan orang Cina yang tinggal di sebelah Barat, juga telah bercampur dengan mereka-mereka yang tinggal di perbatasan Kazahktan dan Afganistan. Karena itulah di bagian itu, banyak orang yang berhidung mancung dibanding yang lain. Bila kita menganggap murni sebagai yang lebih tua, sebenarnya sebagian nenek moyang penduduk Nusantara asalnya dari Yunan (Cina Selatan).

Beribu-ribu tahun yang lalu mereka telah bermigrasi dan menyebar di beberapa kepulauan di Indonesia.  Jadi, bukankah mereka sebenarnya bisa dianggap sebagai Cina yang lebih murni daripada Cina di negaranya yang telah tercampur dengan darah Mongolia? Antara Cina dan bukan Cina di Nusantara seharusnya tidak menjadi masalah, karena mayoritas dari mereka yang merasa pribumi sendiri adalah para migran. Kalau banyak orang akan ngotot bahwa identitas itu tergantung dari mana nenek moyang kita berasal, mungkin orang Indonesia akan berganti dengan orang Persia, orang Arab, orang India, dan orang Cina, karena yang nenek moyangnya berasal dari tempat yang disebut Indonesia akan jarang sekali, bila kita memang mau menelurusi ke belakang. Namun, pemerintah penjajahan Belanda menginginkan adanya adu domba. Sejak abad ke-18, diadakan pemisahan antara mereka yang dianggap Cina dan mereka yang disebut pribumi. Hal ini dilanjutkan dengan adanya Staats Regeling, Staatsblad No. 1917-30, yang mengharuskan mereka mempunyai identitas sebagai Cina atau pribumi. Mereka yang merasa dan diharuskan menjadi Cina, ironisnya adalah manusia-manusia yang baru saja datang dari negara Cina – yaitu mereka yang kebanyakan telah tercampur dengan Mongolia. Sedangkan, para pendatang dari Yunan, akhirnya harus disebut Indonesia pribumi. Tentu, dalam masa perang, seringkali ada kekacauan identitas. Perkawinan silang juga terjadi dari dulu. Plus, adanya perselingkuhan dan lain-lain, yang menambah tidak mungkinnya lagi, seseorang mempunyai etnis yang murni. Diskriminasi pun berlanjut. Dari kolom KTP sampai paspor, stempel Cina masih melekat. Sekarang, stempel seperti ini telah ditiadakan, namun sebutan Cina masih bergentayangan.  Tidak peduli, mereka lahir dan besar di Indonesia dan nenek moyangnya telah bergenerasi tinggal di Indonesia. Yang dianggap Cina seringkali tetaplah Cina.

Diskriminasi seperti ini bisa dianggap sepele, namun ketika kerusuhan Mei’ 98 terjadi, kita bisa melihat, diskriminasi ini bukan hal yang remeh. Begitu juga dengan munculnya tokoh seperti Ahok sebagai calon gubernur. Masih saja yang dijadikan bahan untuk menjatuhkan dia adalah kecinaannya. Tentu saja diskriminasi bisa datang dari berbagai pihak. Mereka yang merasa "Cina", misalnya, melarang anaknya berpacaran dengan yang dianggap "pribumi". Memang, kebanyakan manusia menderita amnesia sejarah, sehingga mereka berpaku pada etnisitas yang bisa menimbulkan rasisme luar biasa tanpa disadari.

Saya telah tinggal di beberapa negara, dan kebanyakan dari teman saya di luar negeri menyebut saya orang Indonesia, karena kebetulan saya lahir dan besar di negara yang sekarang bernama Indonesia, dan berwarga negara Indonesia. Namun, ketika saya pulang, ke tempat saya dilahirkan, saya masih disebut "Cina".  Sebutan yang sangat mengejutkan beberapa teman saya di negara lain. Karena bagi mereka tempat kelahiran dan kewarganegaraan saya sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menyebut saya orang Indonesia. Anehnya, ketika saya mempertanyakan sebutan "Cina" ini di negara saya dilahirkan dan dibesarkan, justru di sinilah, masih banyak yang menuduh saya mengada-ada, tidak saja dari mereka yang dianggap "pribumi" namun juga yang disebut "Cina". Rasisme yang ditanamkan oleh pemerintah kolonial Belanda masih mempunyai dampak luar biasa!

---

Dikenal sebagai benar-benar orang Indonesia sepertinya memang benar hanya terjadi ketika saya berada di negara lain, Korea misalnya. Memang pernah, ada satu dua teman saya yang mempertanyakan apa benar saya orang Indonesia ketika saya memperkenalkan diri orang Indonesia. Saya jawab dengan bangga, "Yes, I'm Indonesian! Really!" Lalu, saya menjelaskan bahwa appearance saya memang mungkin sedikit berbeda karena nenek moyang dari pihak ayah (nenek moyang, loh, bukan nenek saya) saya memang berasal dari Tiongkok (begitu nenek saya menyebutnya), tetapi mereka sudah lama sekali tinggal di Indonesia. Ayah saya sudah generasi keberapa saya juga kurang tahu. Yang jelas, bukan generasi satu dua ataupun tiga karena ayah saya sama sekali sudah tidak mengerti bahasa sana. Mereka lalu manggut-manggut dan berkata "Oooo.. Pantes", hehehe... Tetapi, hanya sebatas itu. Apa yang mereka terima adalah bahwa saya orang Indonesia. Titik. Kalaupun saya kemudian dikenalkan lagi ke teman-teman mereka, mereka pasti bilang, "Please meet my Indonesian friend!" Belum pernah tuh, dibilang "Please meet my Indonesian Chinese friend!" Never! Hehe..

Saya kemudian menjelaskan lebih lanjut bahwa di Indonesia memang banyak terdapat mudblood (baca: darah campuran). Hahaha... Bisa jadi neneknya bule, tapi kakeknya Afrika, buyutnya Jepang, mamanya India, suka-sukalah... Mereka manggut-manggut kagum gitu. Saya malah tambah bangga. Indonesia kaya banget kan! Heterogen! Lagian, siapa sih yang bisa milih nenek moyangnya siapa, emaknya siapa, bapaknya siapa? Kalaupun bisa, saya bakal tetep milih saya mau jadi orang Indonesia! Wong negara-negara lain aja menjajah negara kita saking kayanya dan bahkan ingin memilikinya, ga jarang kita malah pengen tinggal di luar negeri, jadi warga negara sono. Jujur, saya juga pernah loh, dulu berpikir seperti itu waktu SD. Enaklah tinggal di luar negeri, sepertinya di sana hidupnya nyaman, sehat, panjang umur, gaji gede, hidup ga penyakitan. Tapi, kan ini hanya kelihatannya, hehehe.. Saya yakin itu juga merupakan hasil kesadaran dan komitmen mereka untuk menjaga tempat tinggal mereka, and I believe it doesn't happen in a month, a year, or even ten years! Mereka mengusahakan tanah mereka BERTAHUN-TAHUN dan BERSAMA-SAMA! Oke, ini soal nasionalisme, nanti bakal saya bahas lebih lanjut di postingan lain kali. Bisa panjang soalnya, hehe..

Balik lagi ke soal identitas saya yang istilah beberapa temen saya "kurang melek matanya", -.- hahahaha.. Dari kecil, orang tua saya mengajarkan bahwa saya orang Indonesia! Bukan Cina Indonesia! Atau Indonesia Cina! Apalagi Cina, Cino, Ciben, apapunlah itu! Istilah ini menyesatkan, berpotensi pada disintegrasi bangsa!  (Bisa dibikin postingan baru lagi tentang ini nih, lain kali ya!) Walau demikian, saya tetap dikenalkan dengan identitas nenek moyang dari pihak ayah saya yang merupakan migran dari Daratan Tiongkok. Saya ingat dengan jelas, lebih dari JELAS, waktu umur berapa gitu (katanya inget? hahahaha), waktu kecil pokoknya, ketika ada perintah dari RT/RW buat ngisi KK alias Kartu Keluarga, saya yang mau ngisiin punya saya sendiri (ceritanya udah bisa menulis indah gitu, hahaha.. udah ga kaya ceker ayam lagi. Sepertinya SD deh, yang jelas sebelum tahun 1998).

Saya berhenti mengisi pas di kolom "Status". Saya bingung, pilihannya ada "WNI Asli", "WNI Campuran", "WNA". Waktu itu, saya tanya ibu saya, "Ma, ini aku apa ya? WNI asli, campur, apa WNA? WNA ya?" Saya beneran nanya gini loh (ngarep banget ya dulu jadi bule! Hahaha) Ibu saya jawab: "WNI asli! WNA dari mana?" Terus saya jawab, "Kan Papa Cina?" (Konstruksi identitas bawaan zaman Belanda yang dikukuhkan di Orde Pra-Reformasi aja sudah merasuk ke alam bawah sadar anak kecil, bahwa ada dikotomi Cina dan Indonesia, alias pribumi! Ckckck! Gila banget emang penjajah!)

Mama saya terus bilang, "Hus, papa itu Indonesia!" Terus papa manggut-manggut dan menyatakan hal yang sama. "Oh, jadi papa bukan WNI campuran juga ya?" "Bukan juga, udah sana diisi WNI asli!" Saya centang WNI asli dalam formulir KK saya, formulir KK yang saya isi sendiri untuk pertama kali! Sebuah pengakuan pribadi tentang identitas saya sebagai orang INDONESIA! Saya masih inget banget peristiwa ini. Sejak itu, saya menyadari dengan penuh bahwa saya orang Indonesia! Apalagi, setelah dapet pelajaran PPKn di sekolah menengah tentang apa itu WNI menurut UUD 1945 (Guru PPKn itu punya peran penting loh menurut saya! Luar biasa penting). Oia, sempet sih dalam hati waktu itu saya mikirnya, "Yaaaaaah.. gue bukan bule dong," (Yaiyalah, bule dari Hongkong?! Hahaha) Tapi itu dulu loh dulu, pas abis disuruh mama isi WNI asli.. Hahaha (Mata putih, kulit biru, eh salah, mata biru, kulit putih itu keren juga KONSTRUKSI! Hahaha, kebanyakan belajar tentang konstruksi di kampus nih, hehehe..)

Lama-kelamaan, bukan cuma rasa kesadaran bahwa saya orang Indonesia yang tertanam, tetapi rasa BANGGA sebagai orang Indonesia juga ikut tumbuh, walau saya akui rasa MIRIS pada bangsa Indonesia juga ikutan tumbuh perlahan-lahan karena melihat kondisi negeri ini yang semakin lama semakin merisaukan. Banyak yang saya tahu pada miris sama bangsa ini. Tapi, saya harap rasa MIRIS yang ada tidak kemudian tumbuh menjadi APATIS, tetapi justru berbuah pada aksi meng-GUBRIS (baca: PEDULI). Saya yakin, suatu hari, saya akan melihat bangsa ini tidak musingin lagi atau gampang terhasut oleh soalan yang ga penting, yaitu PERBEDAAN, demi suatu KEMAJUAN BERSAMA!

Abis baca postingan ini, temen-temen kampus saya kayanya bilang:
"Iya cici emang orang Indonesia!" atau "Iya ncim, lo emang orang Indonesia kok..." :p

Catatan: Saya dipanggil 'ncim' atau 'cici' sama temen-temen deket saya di kampus, tapi itu juga atas seizin saya loh (kayanya mereka bakal nyahut lagi: "Kata siapa atas seijin lo?!" Hahahaha..)

Well, I'm a proud Indonesian! How about you? :)

6 comments:

  1. tulisannya bagus..! baik dari substansi, juga dari tampilannya :)
    menurut gw, 'identitas' di Indonesia itu bukan cuma digunakan untuk menunjukkan sense of belonging seseorang, tapi juga dijadikan sebagai instrumen aktualisasi diri dalam bentuk pernyataan (statement)
    jangankan isu ras seperti yang diangkat dalam tulisan di atas, isu kedaerahan aja masih sering muncul sebagai pemicu terjadinya konflik dan kekerasan..
    sebagian besar masyarakat Indonesia yang masih terjebak dalam pemikiran sempit tentang 'identitas', butuh suatu hal yang mampu membangkitkan semangat nasionalisme mereka, yang mampu membuat mereka membuang unit-unit kecil yang menjadi 'identitas' mereka yang spesifik, menjadi satu identitas besar yaitu 'Orang Indonesia'..
    hal yang dimaksud bisa bermacam-macam, contohnya kaya common enemy (negara tetangga kita sering tuh jadi ini..),, bisa juga kejadian-kejadian seperti bencana alam atau serangan teroris.. nah, kalo udah muncul yang kaya gitu, baru tuh nongol 'Orang Indonesia'-nya..

    anyway, gw ga pernah ngeliat lu sebagai 'yang-lu-sebut-sebagai-cina' koq.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. waaah ada kang ajay! hurray hurray! hohoho.. thank you for visiting my blog! :D
      makasih ya komentarnya kang! ah, tp masih harus berbenah banyak kang blognya hehe..

      iya, betul kang, perbedaan dan keberagaman yg Indonesia miliki itu sebenarnya merupakan salah satu potensi, dan bisa dibilang tentu saja sebagai KEKAYAAN BUDAYA BANGSA! nah, kadang kala ketika potensi atau kekayaan ini tidak dikelola dengan baik (kurang diperhatikan; dianggap taken for granted), oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan celah ini untuk melakukan hal-hal yang berpotensi memicu konflik yang sbenarnya ga perlu.. tp bisa juga loh yang melakukan ini sebenarnya membela apa yang dia rasa benar karena pemahaman yang kurang terbuka..

      makanya pemahaman akan identitas sebagai orang Indonesia itu sangat perlu sedari dini, terlepas dari tetap harus adanya penghargaan atas latar belakang masing-masing, mulai dari etnis yg bisa saja berbeda, budaya berbeda, bahkan agama sekalipun.. tp itu tidak seharusnya mengurangi makna SATUNYA KITA!

      Bener banget tuh, klo pas lagi ada 'common threat', baru deh berkoar-koar.. hahaha..

      Waaah, saya terharuuu, makasih kang ajay! :p

      Delete
  2. Hahaha, aku kalo ditanya masalah orang mana (baca:suku mana) juga bingung Feb jawabnya, secara mama asli Jogja, papah asli Dayak. Lahir di Jogja dan dibesarkan sampe umur 2 tahun, trus dari umur 2 tahun sampe SMA tinggal di Kalimantan. Mo bilang Jawa tapi masih ada darah Dayak. Mo bilang Dayak tapi ada darah Jawa. Yeahhh,amannya emang bilang "ORANG INDONESIA", huahahahaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai hai mbak mega! thank you for giving ur comments!
      udah lama ya mbak ga kontak2an via dunia maya! *saya sih yg timbul tenggelam haha*

      wah mbak juga mirip saya ya, kan kita "disilangkan" dari dua etnis yg berbeda, hehe.. lebih kerennya lagi nih mbak, klo misal ngebayangin, saya yg turunan Jawa-Tionghoa nikah sama laki-laki yg dari 2 etnis juga, misalnya hmm... Ambon-Batak (misalnya loh yaaaa..hahaha), terus anaknya kayanya lucu banget jadinya turunan Jawa-Tionghoa-Batak-Ambon, kuayaaaaa buanget gennya! bibit unggulan! hahaha.. tapi tetep, klo ngenalin diri ke orang pasti teteup bilang: SAYA ORANG INDONESIA! :)

      Delete
    2. Waahhhhh, tulisan yang menarik.
      Menurut saya, isu yang diangkat dalam tulisan ini sangatlah kompleks. agak bingung jg hrs mulai dari mana.

      hmmm. (berusaha 'memutar' otak. lg mikir hrs nulis apa. haha)

      okeh, mari kita masuk ke pembahasan. Semoga tidak melebar kemana-mana. maaf yah klo agak 'melebar'. :)

      Jika merujuk pada aturan formal yg berlaku (UU no 12 Tahun 2006 Tentang Kewarganegaraan Indonesia)memang tidak ada lagi penggunaan istilah 'Warga Negara Indonesia', 'Warga Negara Indonesia Keturunan' dan 'Warga Negara Asing'. Dalam UU tersebut hanya ada satu istilah yang digunakan untuk menjelaskan hak-hak kewarganegaraan di Indonesia; WNI.

      Adanya UU tersebut merupakan suatu kabar bahagia dan gembira, krn kriteria warganegara Indonesia tidak lagi ditentukan oleh perbedaan RAS. Orang berkulit hitam, Albino, putih, kuning, sawo matang, bahkan orang dengan warna kulit yang tak lazim pun bs jadi WNI.

      Namun masalah pengakuan kewarganegaraan tidak hanya persoalan legal-formal (pengakuan negara thdp individu melalui pengesehan UU), tapi juga masalah sosial dan kultural.

      Maksudnya begini, walaupun sudah ada UU yang mengatur kriteria siapa saja yang berhak menjadi 'WNI'.
      Mayoritas masyarakat Indonesia masih mengklasifikasan siapa yang dimaksud dengan "WNI" berdasarkan karakteristik ras tertentu. Bingung kn ? santai, saya juga rada bingung. haha.

      Mari kita lihat percakapan dibawah ini (terjadi pada tahun 2012.
      Sepupu : "Ayah, lampu kamar aa mati"
      Paman : "Yah udh sana, beli bohlam di warung Cina (paman sy blg bgt, krn pemilik warung tersebut keturunan etnis Tionghoa)"

      Bagi masyarakat awan dan tidak terlalu hirau dengan isu ini. Percakapan tersebut merupakan percakapan biasa. Tidak ada yang aneh. semua tampak lazim. Tidak perlu diperdebatkan, tidak perlu dikomentari.

      Tapi, bagi seorang calon sarjana Ilmu Politik yang selama perkuliahannya pernah mengkaji masalah identitas dan kewaraganegaraan. Maka percakapan tersebut merupakan permasalahan sangat serius.

      Melalui contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa masyarakat kita masih menganggap WNI adalah "orang lahir di Indonesia, berkulit sawomatang, dan bermata belo".

      Delete
  3. Saya ingat, pemikiran tersebut saya dapatkan ketika saya berada di bangku Sekolah Dasar. Guru saya pernah mengajarkan seperti itu.

    WOW, berarti sejak memasuki pendidikan dasar kita sudah diajari untuk bersikap diskriminasi. ckck.

    Tapi kan sekarang kondisinya beda, waktu itu saya dapatkan ketika masa Orde Baru. Saya kira, untuk sekarang institusi pendidikan (sekolah) tidak lg mengajarkan nilai-nilai diskriminasi kepada peserta didik-nya. Malah saya lihat, sekolah-sekolah mulai mengajarkan nilai-nilai toleransi, multikulturalisme, dan kebebasan berpikir kepada peserta didik-nya.

    Yang saya takutkan adalah ketika percakapan diatas sering terjadi antara ayah dan anak, antara kakek dan cucu, antara teman dan teman, antara pacar dan pacar, antara dosen dan mahasiswa.
    Ketika percakapan tersebut sering diulang, dikhawatirkan akan menjadi sebuah kebenaran dan pemebenaran yang melekat dalam benak masyarakat. Gagasan itu terlembaga dalam kultur masyarakat Indonesia

    Maka, dapat dipastikan bahwa gagasan diskriminasi tersebut tidak akan musnah dari negeri kita. Tetap ada, walaupun tidak se-'kencang' dulu.

    Hasilnya ? diskriminasi secara sosial dan kultral pun tidak akan hilang. Jangan sampailah.

    lalu apa solusi-nya ?

    Saya berpendapat, untuk menghilangkan diskriminasi secara sosial-kultural tersebut, kita bisa memulai-nya dari diri kita sendiri.

    Kenapa dari kita sendiri ? klo dari orang tua/ibu/bapak sendiri saya agak pesimis. Karena saya yakin mereka disibukan dengan pekerjaan kantor atau rumah tangga, sehingga bagi mereka isu seperti ini tidaklah terlalu penting.

    Tugas kita adalah mengkampanyekan nilai-nilai seperti ini. salah satunya, memanggil teman kita sebagai mana mesti-nya tanpa menggunakan istilah streotipe tertentu. Berbaur dengan mereka yang berbeda warna kulit tanpa ada rasa curiga apapun.

    Inti-nya sih bukan hanya pernyataan, tapi juga perbuatan (walaupun perbuatan itu hanya sebuah ucapan). itu aja sih.

    Paling segini dulu aja ya.

    Tapi, bagaimanapun kompleksitas kondisi yang terjadi di masyarakat,

    Bagi Arief, Febe emang org Indonesia kok. (1.000.000 % ASLI) :)




    *maaf klo bahasa yang digunakan utk pembahasan d atas 'formal'
    dan (mungkin) komentarnya 'ngelenceng'. haha

    Beginilah arief, klo isu yang diangkat serius, ya komennya jg serius. begitu juga sebaliknya,
    That's my style. ASIK. hahaha

    Semoga bermanfaat ;)

    ReplyDelete

Please share your thoughts as well... :)

The Readers

Visits

click me to reveal the contact form

Get in touch with us:

Name

Email *

Message *

We're currently under construction!

We`re working hard and believe we`ll launch the website in: