Terhitung sejak hari ini, Rabu 22 Februari, umat Kristen mulai memasuki masa Pra-Paskah di tahun 2012 untuk mempersiapkan diri menyambut Paskah yang jatuh pada tanggal 8 April mendatang. Hari pertama pada masa Pra-Paskah ini biasa dikenal dengan istilah Rabu Abu. Saya sendiri baru mengenal istilah Rabu Abu pada tahun 2009, ketika gereja saya (bagian dari GKI), memasukkan Rabu Abu menjadi salah satu hari raya gerejawi.
Dalam tradisi umat Katolik, pada misa hari Rabu Abu, mereka akan diberikan tanda abu di dahi yang berasal dari abu palma. Abu dalam berbagai kisah di Alkitab memang menjadi salah satu simbol pertobatan, penyesalan, atau kesedihan yang mendalam. Yosua 7:6, misalnya, mengisahkan Yosua yang mengoyakkan jubahnya, sujud, lalu menabur debu di atas kepalanya sebagai tanda bersedih hati. Mordekhai dalam kitab Ester 4:1 juga diceritakan melakukan hal yang kurang lebih sama ketika ia bersedih. Lalu, ada pula Daniel yang berdoa dan berpuasa sambil mengenakan kain kabung dan abu (Daniel 9:3).
Selama 40 hari ke depan, gereja saya menghimbau jemaatnya untuk menjalani ibadah puasa tidak makan dan tidak minum mulai dari pukul 06.00 hingga pukul 18.00. Puasa pada masa Pra-Paskah sendiri dalam tradisi umat Katolik pada umumnya dilakukan minimal setiap hari Rabu dan Jumat dimulai dari hari Rabu Abu hingga Jumat Agung. Dari yang saya perhatikan, ibadah puasa selama masa Pra-Paskah ini memang belum dilakukan secara merata di GKI ataupun mungkin di gereja Protestan lainnya. Walaupun demikian, tradisi puasa umumnya sudah dilakukan umat Kristen sejak dulu sebagai bentuk kesungguhan hati dalam bertobat (lebih jelasnya bisa dilihat di sini atau di sini), tetapi perlu dipahami di sini bahwa puasa tidak dapat dimaknai sebagai bentuk 'penyogokan' untuk meminta ampunan Tuhan.
Terlepas dari bentuk ataupun pelaksanaannya yang berbeda-beda (misalnya, boleh minum tetapi tidak makan, atau puasa penuh), saya tetap memaknai ibadah puasa ini sebagai momen untuk berefleksi, memperbaiki diri, dan bentuk kesungguhan hati mempersiapkan diri menyambut Paskah mendatang. Saya tidak mau ambil pusing dengan perbedaan aturan yang ada. Bagi saya, lebih penting makna dari proses yang dijalani daripada sekedar terikat pada ritual belaka.
Selamat menjalankan ibadah puasa dan selamat memasuki masa Pra-Paskah.
Semoga bisa menjadi momen untuk memperbaiki diri dan merenungkan karya penyelamatan Allah yang agung di atas kayu salib, Tuhan memberkati :)
No comments:
Post a Comment
Please share your thoughts as well... :)