Sebenarnya, kejadian ini berlangsung kemarin. Sayangnya, tidak sempat aku menuliskannya di sini. Seperti biasa, aku awali hari kemarin dengan berdoa, "Tuhan, aku ingin mendapatkan pelajaran dariMu hari ini, apapun itu."
---
Aku sedang berjalan dengan santai ketika seorang ibu memberhentikanku, "Punten, Neng. Bisa bantu Ibu?"
"Ada apa ya, Bu?" (agak kaget)
"Ibu mau pulang, tapi ga ada ongkos. Ibu dari kos-kosan ponakan Ibu."
"Oh, gitu Bu? Wah, berapa ya, Bu?" (mulai berpikir sepertinya ada yang aneh)
"Ya, pokoknya ongkos bus ke Subang, Neng."
"Bu, saya hanya bisa kasi uang tiga ribu. Mungkin nanti ada yang lewat lagi. Gak apa-apa ya, Bu?" (kuserahkan selembar pecahan dua ribuan dan selembar pecahan seribuan)
"Oh.." (ekspresi agak kaget)
"Mari, Bu." (semakin merasakan kejanggalan)
Aku pun melangkah pergi meninggalkan ibu itu. Entah mengapa, terbersit perasaan tidak terlalu rela membantunya. Sepertinya ada yang salah.
Mengapa ponakannya tidak memberikan uang untuknya pulang? Mengapa tadi ia hanya membawa tas tangan yang sepertinya tidak cukup untuk membawa sehelai baju pun?
Namun, cepat-cepat kutepis perasaan itu.
Aku kembali berjalan. Sudah beberapa hari ini aku memang pergi ke kampus dengan berjalan kaki dan menyisihkan uang yang biasanya kugunakan naik ojek ke kampus untuk sesuatu. Sekali naik ojek dari kosanku sampai kampusku memang memakan ongkos Rp3.000,00. Jadi, anggap saja uang ojek yang kusisihkan hari ini kuberikan pada ibu-ibu tadi. Anggap saja, aku masih bisa ke kampus jalan kaki, sementara ibu itu tidak mungkin ke Subang jalan kaki. Walaupun Rp3.000,00 yang kuberikan tidak cukup untuk sekali perjalanan ke Subang, tapi kupikir masih ada orang baik yang akan lewat untuknya. Tapi, aku terus terusik untuk memikirkannya. Aku teringat pengalaman temanku yang dipalak dengan modus seperti itu. Hanya saja, waktu itu ia harus mengeluarkan kocek lebih besar, puluhan ribu rupiah. Kutepis lagi perasaan itu, dan aku berdoa agar uang itu bisa berguna baginya. "Ayo, ikhlaskan saja!" gumamku dalam hati kuat-kuat. Dan, aku lanjutkan perjalananku.
Tidak sampai beberapa langkah kemudian, ada suara laki-laki setengah menggoda menegurku, "Neng, mau kemana, Neng?" Aku sudah hampir ingin mendelik ketika menoleh, namun aku mengurungkan niatku ketika melihat bahwa bukan laki-laki iseng tak ada kerjaan yang melakukannya, tapi adik kelasku sendiri, Rangga. Untung tidak jadi marah, bisa-bisa malu aku dibuatnya. He-he.
"Mau ke mana, Kak?"
"Ke kampus, Ngga."
"Ya udah, bareng aja, Kak."
"Ah, beneran? Asik asik!"
Dan, akhirnya aku tidak jadi ke kampus dengan jalan kaki, tapi naik motor. Aku langsung teringat kejadian tadi. "Wah, kayaknya memang ada yang salah tadi. Ga mungkin ada yang kebetulan soalnya. Ha-ha-ha."
Sesampainya di kampus, aku langsung menceritakan pengalaman anehku ini pada teman-temanku dan aku mengetahui fakta dari mereka bahwa ibu-ibu tadi sudah sering beroperasi meminta uang dengan modus seperti itu. Bahkan, kadang-kadang, banyak yang justru sebenarnya adalah orang-orang yang tinggal di perumahan besar.
Ya, untung tidak terlalu banyak uang yang kukeluarkan. Ini pelajaran buatku untuk lebih berhikmat lagi dalam bersedekah. He-he-he.
Terlalu polos si febe ni lah,,, heuhhh....
ReplyDeleteudah banyak modus gitu febe...
hahaha
Untung tak banyak ya,,, hehe
hahaha.. ya, maksudku baik tapi tak tepat sasaran :p
ReplyDeleteiya, aku lebih hati2 nanti :)
hahahha... iya bener tuh. aku juga sering kayak gitu, amkanya skrg agak2 "hati-hati" kalo mau kasih orang. awalnya rada terintimidasi jg, kesannya kok pelit bgt, tp mau gimana lagii...
ReplyDeletebiar org Indo belajar usaha juga kek, gak minta2 aja bisanya..
iya bener nda, harus lebih bijak.. :)
ReplyDeletesoalnya betul banget katamu, kita juga punya andil dalam "mengawetkan sikap mereka" kalo kita ga bijak dalam memberi, bisa jadi mereka jadi terus-terusan dan think that this is the only way i can get money :)